Jumat, 03 Oktober 2008

Pengukuran Erosi Tanah

Pengukuran Erosi Tanah

Sungai Cisukawayana dan sungai Citepus berair jernih di bagian hulu tetapi berair keruh di bagian muara. Sungai Cisukawayana berhulu di Desa Sirnarasa sementara Sungai Citepus berhulu di desa Cileungsing. Kedua desa yang bertetangga ini adalah desa-desa penyangga kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak, TNGHS (Gunung Halimun-Salak National Park Management Project, 2005). Penduduk di kedua desa ini sebagian besar bekerja di sektor pertanian. Di Desa Sirnarasa 89,44% penduduknya bekerja di sektor pertanian (Balai Taman Nasional Gunung Halimun, 2000).
Bagi warga kasepuhan kegiatan bertani di kaki atau di lembah kawasan TNGHS sekedar memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari atau disebut petani subsisten. Sementara bagi warga bukan kasepuhan kegiatan bertani berorientasi ekonomi. Tekanan petugas kehutanan terhadap mereka, khususnya warga kasepuhan, mengakibatkan berkurangnya lahan garapan mereka. Oleh karenanya, tanpa ada alternatif ekonomi yang jelas, larangan berladang menimbulkan penderitaan sosial ekonomi yang cukup berat. Dengan kata lain, pelarangan berladang menimbulkan desintegrasi sosial dan menimbulkan kemiskinan baru (Adimihardja, 1992).
Alternatif ekonomi yang paling mungkin untuk mereka (petani) di lahan dataran tinggi adalah penerapan sistem agroforestry, mengingat kondisi fisik lahan dan curah hujan yang tinggi di wilayah penyangga TNGHS menyebabkan tanah di wilayah tersebut sangat rawan erosi sehingga harus dipertahankan bervegetasi hutan. Dari aspek sosial dan budaya sistem agroforestry bisa diterima masyarakat (Balai Taman Nasional Gunung Halimun, 2000; Widada, 2004).

Peran Hutan
Adanya tanaman yang menutupi permukaan tanah dengan rapat selain memperlambat limpasan permukaan juga mencegah terjadinya pengumpulan air secara cepat dan mengurangi daya rusak air tersebut. Jika kecepatan aliran berkurang maka infiltrasi bertambah sehingga hutan mampu menurunkan limpasan permukaan dan erosi tanah. Secara lebih terperinci Arifjaya (2003) dalam tulisannya membandingkan tebal tampungan air tanah antara DAS hutan, DAS pertanian dan DAS campuran (agroforestri).
Hutan sangat berperan dalam mengendalikan limpasan permukaan dan mencegah banjir yang diakibatkan oleh intensitas curah hujan tinggi pada awal musim hujan. Dewasa ini tidak ada penggunaan lahan yang mengimbangi hutan dalam hal kemampuan meresapkan air hujan serta mencegah erosi dan longsor.
Vegetasi hutan yang menyebabkan laju erosi tanah paling kecil dibandingkan vegetasi penutup lahan lainnya. Thu, Ha dan Hai (1997) membandingkan laju erosi tanah pada bermacam2 penutup.

Pengukuran Erosi Tanah
Pengukuran erosi tanah dilakukan untuk mengetahui jumlah tanah yang terlepas akibat hempasan air hujan, terangkut air limpasan permukaan sampai terangkut banjir. Pangukuran dilakukan di lahan yang menerapkan agroforestri dan di lahan yang tidak menerapkan agroforestri, masing-masing pada plot permanen pengukuran erosi tanah. Kemudian hasil kedua pengukuran ini dibandingkan. Lahan manakah yang paling tererosi? Praktek agroforestri apakah yang paling sedikit mengakibatkan erosi tanah?
Pengukuran erosi tanah sebaiknya dilakukan untuk jangka panjang, sehingga dapat diketahui apakah ada peningkatan atau penurunan jumlah tanah yang tererosi. Karena itu purl adanya indikator untuk melihat apakah erosi semakin kecil atau semakin besar.

Penutup
Tulisan pendek ini dimaksudkan untuk mengangkat wacana perlunya dilakukan pengukuran erosi tanah di kawasan TNGHS. Konservasi tanah dan air adalah bagian tak terpisahkan dari konservasi alam. Banyak atau sedikitnya jumlah tanah yang tererosi relatif menunjukkan banyak atau sedikitnya jumlah pohon yang ditebang, dengan asumsi jika semakin banyak pohon yang ditebang maka jumlah tanah yang tererosi semakin banyak.

Tidak ada komentar: